30 Tahun Ia Menangis Karena Hamdallah

Minggu, 27 Desember 2015

NAMANYA SIRRIY SIOTHY. Sering juga disebut dengan as-Surkati, Gara-gara mengucap hamdallah, ia menangis memohon ampun kepada Allah selama tiga puluh tahun. Ia beristigfar setiap hari, setiap saat ia ingat, karena menyesali ucapan alhamdulillah yang pernah keluar dari mulutnya. Ketika ditanya bagaimana ia bisa berlaku demikian, Sirriy Siqthy menuturkan : "Saat itu aku punya sebuah toko di Baghdad. Suatu saat aku mendengar berita bahwa pasar Baghdad hangus dilalap api. Toko yang kumiliki berada di dekat pasar tersebut. Aku bersegera pergi ke sana untuk melihat apakah tokoku juga terbakar atau tidak. Seseorang berkata kepadaku, api tidak sampai di tokomu.' Aku pun mengucapkan Alhamdulillah”. "Setelah itu aku berpikir." kata Sirriy Siqthy melanjutkan ceritanya, 'Apakah hanya engkau saja yang berada di dunia ini ?. Tidakkah ada empat toko lainnya yang terbakar. Tokomu memang tidak terbakar, tetapi toko-toko lainnya terbakar. Ucapan alhamdulillah berarti bahwa engkau bersyukur api tidak membakar tokomu. Jadi engkau rela toko orang lain terbakar asalkan tokomu tidak terbakar.” Sirriy Siqthy kemudian melanjutkan ucapannya, 'Aku berkata lagi pada diriku. 'Tak adakah barang sedikit rasa sedih atas musibah yang telah menimpa kaum Muslimin, hai Sirriy ?". Sirriy Siqthy kemudian mengutip hadis Nabi saw., "Barangsiapa melewatkan waktu paginya tanpa memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka tidaklah dia termasuk dari mereka." Ketakutan Sirriy Siqthy kalau-kalau tidak termasuk golongan kaum Muslimin inilah yang menyebabkan ia menangis terus-menerus selama tiga puluh tahun. Setiap hari ia dibayang-bayangi oleh rasa bersalah tentang betapa nista dirinya karena tak ada bela sungkawa kepada saudaranya sesama Muslim yang ditimpa bencana. Ia merasa menyesal karena di saat saudaranya sesama Muslim ditimpa bencana, ia justru mengucapkan alhamdulillan. Bukan pernyataan bela sungkawa. Kisah Sirriy Siqthy ini terasa begitu mendesak untuk kita baca. Hari ini, ketika perasaan kita telah mati dan itsar (altruisme) sudah nyaris terkikis habis, kita perlu berkaca sejenak pada pribadi-pribadi menakjubkan semacam Sirriy Siqthy. Jika ia menangis memohon ampun hanya karena mengucap hamdalah, masih pantaskah kita mengaku sebagai ummat Muhammad ?. Layakkah kita mengharap syafa'at Rasulullah saw., sementara kita tak pernah memperhatikan kerabat dan keluarga yang kekurangan, ataupun tetangga yang merintih kelaparan ?. Layakkah kita mengharap surga bersama Nabi dan para syuhada, sedangkan kita tidak pernah mau menyisihkan sedikit dari harta kita untuk membersihkan diri itu berubah menjadi penentangan terhadap kebenaran. Sungguh, Allah yang mengampuni karenanya, tak ada hak bagi kita untuk orang-orang yang mau bertaubat karena menganggap tak mungkin diampuni. Ingatlah ketika Rasulullah saw. Bersabda, "Seorang laki-laki berkata, 'Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni dosa seseorang.' Ketahuilah, sesungguhnya Allah swt. akan berkata kepada orang yang bersumpah tadi : Orang-orang yang bersumpah dengan nama-Ku agar Aku tidak mengampuni dosa seseorang, maka sesungguhnya Aku akan mengampuninya dan niscaya Aku hapus amal atau perbuatanmu,'" (HR Muslim). Berpijak pada hadis ini, setiap kita hendaklah berhati-hati dalam menilai. Betapa pun badan sudah penuh tato, hidung sudah bertengger anting-anting dan mulut sudah berlumur kata-kata kotor, kita tetap tidak memiliki hak untuk menghalangi jalan mereka memperbaiki diri. Di antara ereka yang saat ini hidup penuh dengan kekejian, sangat mungkin besok menjadi penolong agama Allah dengan perjuangan yang benar-benar bersih dan gigih. Betapa pun pikiran sudah dipenuhi dengan hal-hal yang bertentangan dengan agama, tetapi tak ada yang mustahil untuk sebuah perubahan besar bila hidayah Allah telah datang. Bukankah Umar bin Khathab dahulunya adalah penentang agama yang paling keras ? Tapi setelah hidayah datang, dialah .yang banyak berkorban untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi bersama Nabi. Begitu pun Abu Dzar al-Ghifari. Nah ! *

0 komentar:

Face Book _ Iwan Kah