Rabu, 29 Oktober 2014

KISAH WANITA CANTIK MULIA BERSUAMIKAN LELAKI TUA, HITAM DAN BURUK AKHLAKNYA

Ilustrasi istri setia © dinalislam1.wordpress.com
Ilustrasi istri setia © dinalislam1.wordpress.com
Padang pasir itu begitu panas. Membuat Al A’masi yang menemani Harun Ar Rasyid pergi berburu menjadi sangat kehausan. Menteri itu pun menoleh ke kanan dan ke kiri, barangkali ada orang yang bisa memberinya air.
Pandangan Al Ma’masi berhenti pada sebuah kemah. Ya, ada kemah di padang pasir ini. Ia pun bergegas ke sana. Ternyata kemah itu dihuni oleh seorang wanita cantik yang mempesona.
Melihat ada tamu yang datang, wanita itu mempersilakannya untuk duduk agak jauh darinya.
“Aku Al A’masi, menterinya Harun Ar Rasyid. Bolehkah aku minta air?” kata Al A’masi memberitahukan keperluannya.
“Maaf, suamiku melarangku memberikan air kepada orang lain,” jawab wanita itu membuat Al A’masi yang tadinya berharap segera terbebas dari kehausan merasa harus menahan sabar. Muncul pertanyaan dalam dirinya, mengapa suami wanita ini melarangnya menolong orang lain.
“Tapi aku punya jatah makan pagi, berupa susu yang belum kuminum. Ambillah untukmu.” Lanjut wanita itu. Al A’masi bersyukur sekaligus kagum dengan kemuliaan wanita tersebut.
Tak berselang lama, wajah wanita itu tampak berubah. Rupanya ada sebuah titik hitam mendekat. Makin lama makin tampak, seorang laki-laki di atas untanya berjalan ke arah kemah itu.
“Itu suamiku” kata wanita tersebut sambil bergegas menghampiri suaminya. Ia membantu lelaki tua, hitam dan jelek itu turun dari ontanya, serta mencuci tangan dan kakinya. Laki-laki itu kemudian masuk ke dalam kemah tanpa mempedulikan dan menyapa Al A’masi. Dari dalam kemah, terdengar laki-laki itu berkata buruk kepada istrinya.
“Aku kasihan kepadamu,” kata Al A’masi kepada wanita itu, sebelum ia berpamitan. “Engkau ini masih muda, cantik, berakhlak mulia, tetapi bergantung kepada suami tua, hitam dan buruk akhlaknya. Mengapa kamu bergantung kepadanya? Apakah karena hartanya? Padahal ia miskin. Apakah karena ketampanannya? Padahal ia hitam dan jelek. Apakah karena akhlaknya? Padahal akhlaknya buruk”
“Aku justru kasihan kepadamu wahai Al A’masi” jawab wanita itu dengan tegas. “Bagaimana mungkin Harun Ar Rasyid punya menteri yang berusaha menjauhkan seorang muslimah dari suaminya. Ketahuilah, iman itu separuhnya adalah syukur dan separuhnya adalah sabar. Aku bersyukur karena Allah membimbingku dengan Islam dan memberiku kecantikan. Dan kini aku belajar bersabar dengan suami seperti yang engkau sebutkan.”
Al A’masi tak bisa berkata apa-apa. Sungguh mengagumkan wanita itu. Allah telah memuliakan akhlaknya sebagaimana Dia telah mempercantik wajahnya.
Sebagaimana keseluruhan hidup ini, pernikahan juga ujian. Istri atau suami yang telah menikah dengan kita, kadang kita dapati tidak sesuai dengan mimpi-mimpi indah kita. Allah telah memberikan banyak contoh. Ada pasangan ideal seperti Adam dan Hawa, Ibrahim dan Sarah, atau Muhammad dan Khadijah. Namun Allah juga memberikan contoh sejarah, ada Nuh dan istrinya. Ada Fir’aun dan suaminya.
Sungguh membahagiakan jika suami dan istri kita adalah sosok ideal yang kita harapkan. Tetapi jika kita telah menikah dan suami atau istri kita tak seideal yang kita harapkan, kebahagiaan itu ada pada sikap kita. Ada nasehat bijak mengatakan, jika suami kita tak seburuk Fir’aun, tidak bolehkah kita menjadi perempuan semulia Asiyah. [Muchlisin BK/Kisahikmah.com]

‘JIKA KAU BERTAHAN HIDUP, INGATLAH BAHWA AKU MENCINTAIMU’

ilustrasi @anteppress
ilustrasi @anteppress
Bencana selalu menyisakan luka. Selalu ada kisah dan cerita yang mengiringinya. Manis dan pahit sejatinya adalah dinamika yang silih berganti. Maka dalam kepahitan peristiwa, selalu ada manis yang layak untuk diteladani dan dikenang. Begitupun sebaliknya, dalam kebahagiaan kisah, barangkali ada getir yang mengiringi.
Bencana tsunami yang melanda negeri Jepang tahun 2011 merupakan bencana terbesar sejak 140 tahun di negara itu. Meski sekarang mereka telah berhasil keluar dari krisis yang disebabkannya, banyak kisah inspiratif yang kemudian beredar sebagai sebuah kenyataan perjuangan.
Beberapa saat setelah keadaan memungkinkan untuk dilakukan evakuasi, tim pencari korban terus merangsek ke segala penjuru. Tak terkecuali, rumah-rumah yang roboh menjadi sasaran pencarian mereka.
Di salah satu rumah itu, terlihatlah sesosok tubuh dalam keadaan membungkuk dengan kedua tangannya menyanggah bangunan yang roboh. Ia tampak melindungi sesuatu. Dengan antusias, anggota tim mendatanginya, berharap sosok itu masih bernyawa. Ternyata, tubuhnya sudah dingin dan tak ada tanda-tanda kehidupan dalam sosok itu.
Tim pun beranjak menuju tempat lain, berpikir mencari korban yang barangkali masih bisa diselamatkan secepat mungkin. Namun, entah karena dorongan apa, sang komandan tim kembali kepada sosok membungkuk yang sudah tak bernyawa itu.
Setelah memerhatikan dengan saksama, ternyata ia tengah melindungi bayi yang tengah tertidur pulas. Sesegera mungkin, ia memerintahkan timnya untuk melakukan evakuasi secepat mungkin untuk menyelamatkan sang bayi. Ternyata bayi yang terlindungi itu terlelap dalam tidurnya di tengah reruntuhan bangunan.
Berkat kerjasama nan sinergi, bayi itu pun berhasil dikeluarkan dengan tanpa luka sedikit pun. Ia juga tak terbangun dari tidur nyenyaknya itu. Ketika diangkat untuk digendong oleh salah satu tim, ternyata di balik selimut sang bayi terdapat ponsel yang sepertinya sengaja diselipkan.
Sebab penasaran, diambillah ponsel tersebut. Selepas dibuka, ada pesan tersimpan di draft pesan. Sosok pembuka pertama, sama sekali tak bisa berkata-kata selepas membaca pesan itu. Ia hanya mengulurkan ponsel itu agar dibaca oleh rekannya. Hingga ponsel itu berkeliling kepada seluruh tim, semuanya masih terdiam.
Ternyata, sosok yang membungkuk seraya melindungi sang bayi adalah ibunya. Pesan dalam ponsel itu juga sengaja ditulisnya untuk disampaikan kepada sang anak, kelak selepas ia dewasa. Di dalam ponsel itu, tertulis jelas sebuah pesan cinta, “Jika kau bertahan hidup, ingatlah bahwa aku mencintaimu.”
Begitulah ibu. Kasih sayangnya sepanjang masa. Cintanya sama sekali tak bertepi. Pengorbanannya benar-benar tak tergantikan oleh apa pun. Semoga seluruh ibu di dunia ini senantiasa diberkahi oleh Allah Yang Mahakuasa. [Pirman]

KETIKA ISTRI-ISTRI RASULULLAH MEMINTA KENAIKAN UANG BELANJA

ilustrasi @wasfapp
ilustrasi @wasfapp
Terdapat teladan agung dalam setiap episode kehidupan Rasulullah Saw dan para istrinya. Inilah teladan yang tidak terdapat sedikit pun kecacatan di dalamnya. Teladan nan abadi, harum dan mewangi sepanjang masa.
Ada sebuah episode, ketika istri-istri Rasulullah Saw berkumpul dan meminta kenaikan uang belanja. Kisah luar biasa ini, dikisahkan dengan detail dalam banyak riwayat yang shahih.
Sahabat Jabir bin Abdullah menceritakan. Saat itu, banyak sahabat yang duduk duduk di depan rumah Rasulullah Saw. Namun, tak seorang pun yang diizinkan masuk. Lalu, datanglah Abu Bakar ash-Shidiq ke rumah beliau Saw. Ternyata, kata Jabir, “Abu Bakar diizinkan masuk.”
Tak berselang lama, datang juga Umar bin Khaththab. Selepas meminta izin, Umar pun diizinkan masuk ke ruma mulia tersebut. Di dalamnya, Umar mendapati semua istri Rasulullah Saw tengah berkumpul.
Belum lama masuk, Umar langsung berkata, “Sungguh, aku akan mengatakan sesuatu yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah.” Sahabat yang dijuluki al-Faruq ini melanjutkan, “Wahai Rasulullah, jika bintu Kharijah meminta nafkah lebih kepadaku, niscaya aku akan berdiri dan memukul tengkuknya.”
Sang Nabi pun tertawa dan berkata, “Mereka (istri-istri Rasulullah) saat ini duduk di sekelilingku sebagaimana yang engkau lihat,” lanjut beliau, “mereka meminta nafkah lebih.”
Seketika itu juga, Abu Bakar ash-Shidiiq berdiri dan menghampiri ‘Aisyah lalu memukul tengkuknya. Begitupun dengan Umar. Ia berdiri seraya mendatangi Hafshah dan memukul tengkuknya. Keduanya pun berkata, “Apakah kalian meminta kepada Rasulullah Saw sesuatu yang tidak dimilikinya?”
Mereka pun menjawab, “Kami tidak meminta kepada Rasulullah Saw sesuatu yang tidak beliau miliki.”
Rasulullah Saw pun meninggalkan istri-istri beliau selama satu bulan. Ada yang menyebut tiga puluh hari, ada juga riwayat yang menyebutkan dua puluh sembilan hari.
Atas peristiwa itu, sebagai solusi kepada kekasih-Nya itu, Allah Swt menurunkan surah al–Ahzab ayat 28 dan 29.
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.”
Jabir bin Abdullah melanjutkan riwayatnya, “Lalu, Nabi mendatangi ‘Aisyah.”
Disebutkan, bahwa Nabi mengatakan kepada ‘Aisyah akan turunnya ayat ini. Beliau berpesan agar ia tidak tergesa-gesa dalam memberikan jawaban.
Kemudian, Nabi Saw membacakan dua ayat di atas. Selepas mendengarnya, ‘Aisyah berkata, “Apakah dalam memilih engkau aku harus meminta pedapat kepada kedua orangtuaku?!” Tanya sang istri, retoris. Lanjutnya, “Aku memilih Allah, Rasul-Nya dan negeri akhirat.”
Selanjutnya, ia meminta agar Rasulullah Saw tidak memberitahukan jawaban tersebut kepada istri beliau yang lain. Nabi kemudian menyampaikan, “Tidaklah seorang pun dari mereka yang bertanya, melainkan aku akan memberikan jawabannya.”
Jabir menutup penuturannya sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dengan menyampaikan sabda Rasulullah, “Sesungguhnya Allah Swt tidak megutusku sebagai seorang yang menyusahkan ataupun menjerumuskan orang lain pada kesusahan,” pungkas beliau, “Allah Swt mengutusku sebagai pemberi pelajaran dan kemudahan.”
Inilah seterang-terangnya petunjuk bagi kaum muslimin dalam menyelesaikan setiap riak dan gelombang yang terjadi dalam rumah tangga mereka. Semoga Alah Swt memberkahi semua keluarga kaum muslimin, di mana pun mereka berada.
Allahumma shalli ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad. [Pirman]

KEPALA NEGARA INI MENGGAJI PEGAWAI LEBIH BESAR DARINYA

ilustrasi © nafedz.com
ilustrasi © nafedz.com
“Wahai amirul mukminin, bolehkah aku bertanya kepadamu?” kata Ibnu Abi Zakariya. Seulas senyum menyambutnya, seraya memberikan jawaban dengan ramah. “Silahkan, katakanlah.”
“Aku diberitahu bahwa engkau menggaji setiap bawahanmu sebesar 300 dinar. Apakah hal itu benar?”
“Iya, engkau benar”
“Mengapa sebanyak itu?” lanjut Ibnu Abi Zakariya penasaran.
“Aku ingin mencukupi kebutuhan mereka, supaya mereka tidak mengkhianati negara”
“Tapi mengapa engkau tidak mau diberi gaji besar, padahal engkau lebih berhak mendapatkan gaji yang lebih besar dari mereka?”
Yang ditanya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mengeluarkan seekor keledai. Setelah itu, barulah ia mengatakan, “Wahai Ibnu Abi Zakariya, keledai ini dulunya diambil dari harta fai’ (harta yang ditinggalkan pasukan musuh yang kalah sebelum perang). Tetapi setelah hari ini aku tidak akan pernah menggunakannya.”
Ibnu Abi Zakariya dan orang-orang cerdas tahu betul arti jawaban ini. Bahwa khalifah itu, yang tidak lain adalah Umar bin Abdul Aziz, sangatlah zuhud. Zuhud membuat dirinya berhati-hati dengan harta apapun. Zuhud membuatnya hidup sederhana. Zuhud membuatnya tak mau menerima pemberian besar dari negara. Zuhud membuatnya menjauhi fasilitas mewah yang sebenarnya adalah haknya sebagai kepala negara.
Pada kesempatan lain, Umar bin Abdul Aziz ditanya oleh seseorang. “Wahai amirul mukminin, sebenarnya engkau bisa mengambil uang di Baitul Mal dua dirham sehari, sebagaimana dulu dilakukan Umar bin Khatab. Mengapa engkau tidak melakukannya?
Dengan senyum tawadhu’, didasari pemahaman bahwa dirinya tak lebih mulia dari kakeknya itu, Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Wajar jika Umar bin Khatab mau menerimanya. Sebab setelah menjadi khalifah, beliau tak punya apa-apa. Tetapi aku, hartaku cukup untuk memenuhi kebutuhanku.”
Masya Allah… inilah jawaban Umar bin Abdul Aziz, yang digelari khulafaur rasyidin kelima. Karena hartanya masih cukup, ia tak mau mengambil jatah dari baitul mal. Sungguh sangat jauh berbeda dari perilaku banyak pejabat dan penguasa di era sekarang. Harta mereka berlimpah, masih saja meminta banyak fasilitas. Harta mereka bukan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarga, bahkan harta mereka cukup untuk menghidupi tujuh turunannya. Tetapi, mereka tetap merasa kurang, kurang dan kurang. Mereka merasa perlu menumpuk, menumpuk, menumpuk. Lebih parah lagi, mereka bukan hanya menumpuk harta dari sumber yang halal. Bahkan mereka mengais dari sumber-sumber yang tak halal. Seperti meminum air laut, banyaknya harta yang mereka peroleh hanya membuat mereka haus. Maka mereka terus mengambil dan menumpuk harta yang bukan haknya.
Zuhudnya Umar bin Abdul Aziz membuat dirinya disukai oleh bawahannya. Maka mereka bekerja dengan nyaman lalu bersama-sama bekerja memajukan kekhilafahan Islam. Dan jadilah dua setengah tahun pemerintahan Umar bin Abdul Aziz sanggup mengubah kondisi masyarakat. Lebih sejahtera, lebih berwibawa. Saat itulah jumlah muzakki meningkat pesat, dan negara kesulitan menemukan orang yang mau menerima zakat. Hal sebaliknya akan terjadi manakala pemimpin rakus dan korup. Bawahannya hidup menderita, rakyatnya hidup sengsara, jauh dari kata sejahtera.
Ya Allah… hadirkanlah untuk umatMu ini, pemimpin yang zuhud seperti Umar bin Abdul Aziz. Pemimpin yang membawa kami menjadi hambaMu yang bertaqwa, pemimpin yang mampu mengajak kami hidup sejahtera di bawah naungan ridhaMu semata. Pemimpin yang mampu mewarnai kehidupan kami menjadi penuh syukur, menjadi baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur. [Muchlisin BK/kisahikmah.com]

PERLAKUAN RASULULLAH SAW KEPADA ANAK-ANAK KETIKA SHALAT

Ilustrasi @willby
Ilustrasi @willby
Tiada teladan terlengkap kecuali dari sosok Muhammad bin Abdullah. Beliaulah sosok yang memberikan contoh kepada umatnya dari bangun tidur hingga tidur lagi di sepanjang kehidupan. Teladan yang beliau lakukan, katakan atau setujui meliputi segala bidang kehidupan dan akan terus terpakai hingga akhir zaman.
Dewasa ini, kita sering melihat perlakuan aneh para orangtua terhadap anaknya ketika shalat. Meski menyertakan anak dalam shalat berjamaah di masjid merupakan hal yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw, banyak kaum muslimin yang kurang memahami bagaimana memperlakukannya. Alhasil, perlakuan sebagian orangtua itu terkesan kasar dan membekas dalam diri anak sebagai ketidakbaikan.
Disampaikan oleh Syaddad bin Hadi, ketika itu Rasulullah mengimami shalat di siang hari –Dhuhur atau Ashar. Dalam shalatnya kala itu, beliau menyertakan salah satu cucunya –Hasan atau Husain. Syaddad kala itu turut menjadi makmum dalam shalat tersebut.
Dilanjutkan oleh Syaddad, “Nabi Saw meletakkan cucunya (di samping beliau), lalu beliau bertakbir.” Shalat pun didirikan. Kemudian, beliau melamakan salah satu sujud dalam rakaat tersebut. Disebutkan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad ini, “Beliau melamakan salah satu sujudnya, sehingga aku mengangkat kepalaku.”
Maksudnya, Syaddad menganggkat kepala karena mengira bahwa Rasulullah sudah bangun dari sujud dengan suara yang lirih sehingga Syaddad tidak mendengar suara Rasul. Ternyata, Rasulullah Saw masih dalam keadaan sujud. Namun, “Aku melihat anak itu (cucu Nabi) tengah berada di atas punggung Rasulullah Saw.” Lantaran Nabi masih dalam keadaan sujud, Syaddad pun kembali ke posisi sujud seperti sedia kala.
Seusai shalat, para sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw sebagaimana disebutkan dalam hadits yang dikeluarkan pula oleh Imam an-Nasa’i ini, “Wahai Rasulullah, dalam salah satu sujudmu tadi, engkau sujud dengan lama,” demikian kata sahabat. Lanjut mereka, “Sehingga kami mengira ada sesuatu yang terjadi. Apakah ada wahyu yang sedang diturunkan kepadamu?”
Jawab sang Nabi lugas, “Semua itu tidak terjadi,” akan tetapi, lanjut beliau, “anakku (cucuku) ini telah menaiki punggungku.” Jadi, itulah alasan mengapa baginda Rasulullah Saw melamakan salah satu sujudnya. Pungkas beliau menerangkan, “Sehingga aku tidak ingin memotongnya sampai ia puas.”
Begitulah kasih sayang Rasulullah Saw yang sempurna. Beliau amat memerhatikan kondidi psikis anak-anak, pun dalam shalatnya. Beliau betul-betul membuat perasaan anak-anak nyaman dengan perlakuan yang amat lembut.
Allahumma shalli ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad. [Pirman]

KISAH PENGADILAN JATUHKAN HUKUMAN POTONG TANGAN PADA SULTAN MUHAMMAD AL FATIH

Sultan Muhammad Al Fatih © abuanasmadani.com
Sultan Muhammad Al Fatih © abuanasmadani.com
Kita telah mengetahui bahwa Sultan Muhammad Al Fatih adalah pemimpin pilihan. Dialah yang telah membebaskan Konstantinopel. Bahkan, para ulama meyakini, ia dan pasukannya adalah yang dimaksud hadits “fa ni’mal amiiru amiiruhaa, wa ni’mal jaisy dzaalikal jaisy” (sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin penakluk Konstantinopel, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya).
Tetapi tahukah kita, Sultan Muhammad Al Fatih pernah digugat di pengadilan oleh seorang Romawi, yang kemudian qadhi menjatuhkan hukuman potong tangan padanya? Berikut kisahnya…
Setelah menaklukkan Konstantinopel, Sultan Muhammad Al Fatih minta dibuatkan masjid di kota yang ia namakan Islambul itu. Ia menugaskan Iblasanti, seorang arsitek berkebangsaan Romawi, untuk memimpin pembangunannya. Iblasanti dikenal sebagai arsitek hebat di zaman itu.
Sultan Muhammad Al Fatih memerintahkan agar tiang-tiang masjid dihias dengan batu marmer, dengan ketinggian tertentu agar masjid terlihat kokoh. Al Fatih telah memberikan ukuran itu sejelas-jelasnya, tapi Iblasanti mengurangi ketinggian tiang-tiang itu. Al Fatih pun marah atas tindakan Iblasanti. Atas pelanggaran itu, Iblasanti dihukum potong tangan.
Al Fatih kemudian menyesali keputusannya tersebut. Tapi terlambat, tangan Iblasanti telah terpotong.
Iblasanti yang tidak terima dengan hukuman itu kemudian mengajukan gugatan ke qadhi Islambul, Syaikh Shari Khidir Jalabi. Ulama ini dikenal adil dan pemberani.
Singkat cerita, gugatan Iblasanti dikabulkan. Digelarlah pengadilan dengan memanggil Sultan Muhammad Al Fatih. Al Fatih pun dengan ringan langkah datang ke pengadilan. Ia taat pada hukum Islam yang tidak membedakan khalifah atau rakyat.
Iblasanti menyampaikan gugatannya seraya menceritakan apa yang dialaminya. Saat Al Fatih diberi kesempatan berbicara, ia membetulkan cerita Iblasanti.
Setelah mendengarkan keduanya, Syaikh Shari Khidir Jalabi diam sejenak. Kemudian dengan nada tegas ia membacakan keputusannya. “Sesuai dengan hukum syariat, tangan Muhammad Al Fatih harus dipotong demi melaksanakan hukum Qishash.”
Al Fatih tampak tidak terkejut dengan putusan itu, sebab ia memahami qishash di dalam Islam. Tetapi tidak demikian dengan Iblasanti. Ia berkeringat, wajahnya pucat. Dengan nada gugup ia segera menyela, “Wahai qadhi, aku tidak menyangka jika engkau akan menjatuhkan hukuman potong tangan. Sesungguhnya, bukan itu yang aku maksudkan. Karena itu, aku mencabut gugatanku.”
Iblasanti tidak pernah berpikir bahwa pengadilan Islam akan sedahsyat itu. Ia tak pernah membayangkan bahwa sebuah pengadilan bisa menjatuhkan hukuman seberat itu kepada pemimpin negara.
“Lalu, apa yang kau inginkan?”
“Maksudku datang ke pengadilan ini adalah, aku ingin ganti rugi. Karena aku sudah tidak bisa bekerja seperti biasanya, aku menuntut nafkah kepada Sultan Muhammad Al Fatih.”
Pengadilan kemudian memutuskan Muhammad Al Fatih diwajibkan memberinya 10 keping uang per hari. Namun, Muhammad Al Fatih melipatgandakan nafkah itu. Ia memberikan 20 keping uang per hari kepada Iblasanti.
Demikianlah potret keadilan Islam. Dalam kondisi pemimpin taat hukum, setara di hadapan hukum, dan pengadilan menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, Islam menjadi agama yang cepat meluas. Penduduk Konstantinopel berbondong-bondong masuk Islam, dan orang-orang kafir pun hormat-segan kepada Islam dan kaum muslimin. [Muchlisin BK/Kisahikmah.com]
*Maraji’: Golden Stories karya Mahmud Musthafa Sa’ad dan Nashir Abu Amir Al Humaidi

KISAH ISTRI SHALIHAH, SETIA MENUNGGU SUAMI 6 TAHUN KOMA

ilustrasi muslimah berdoa – onislam.net
ilustrasi muslimah berdoa – onislam.net
Sosok wanita shalihah dan istri setia melekat pada Ummu Asmaa. Bagaimana tidak, selama bertahun-tahun ia setia menunggui suaminya yang koma. Dokter memvonis suaminya tak mungkin sembuh, bahkan ada syaikh merekomendasikan agar Ummu Asmaa bercerai dan menikah lagi. Tapi ia mengabaikan itu semua. Ia memilih setia. Apa yang akhirnya ia dapat? Ini kisahnya yang mengharukan…
Suamiku adalah pria yang shalih dan berakhlak mulia. Ia juga sangat berbakti pada kedua orangtuanya. Sejak menikah dengannya pada tahun 1390 Hijriyah, kami tinggal bersama orang tuanya di Riyadh. Kebahagiaanku semakin bertambah, saat Allah mengkaruniakan seorang putri kepada kami setahun kemudian. Kami memberinya nama Asmaa.
Ketika putri kami berusia satu tahun, suami pindah kerja di daerah Timur Arab Saudi. Ia bekerja di sana selama sepekan dan pulang ke rumah selama sepekan. Begitu seterusnya hingga tiga tahun lamanya.
Suatu hari, tepatnya pada 9 Ramadhan tahun 1395 H, sebuah berita mengejutkan datang kepada kami. Bak petir di siang hari membelah langit yang cerah. Mobil suamiku terbalik saat pulang menuju Riyadh. Kecelakaan itu begitu hebat hingga membuatnya langsung koma. Ia segera dilarikan ke rumah sakit. Tim dokter spesialis yang menanganinya mengatakan, suamiku mengalami kelumpuhan otak. 95 persen otaknya telah mati.
Hari-hari itu membuatku sangat sedih. Suami tercinta yang selama ini menjadi tumpuan hidup kami kini terbaring koma. Satu hari.. dua hari.. satu pekan.. dua pekan.. waktu terasa sangat lambat, dan kondisi suamiku tak mengalami perubahan apapun. Orangtuanya yang sudah lanjut usia tak kalah sedih. Namun yang membuatku paling sedih, ketika Asmaa menanyakan di mana ayahnya. Mengapa ia tak kunjung pulang. Kami memang menyembunyikan kabar sebenarnya dari Asmaa. “Umi, abi kok tidak pulang-pulang ya, katanya mau membelikan mainan?” tanya Asmaa dengan polosnya. Sambil berusaha menahan air mata, aku hanya bisa menjawab, “Sabar ya sayang… insya Allah nanti abi akan kembali.”
Bulan demi bulan berlalu. Tahun berganti tahun. Tak ada perubahan pada suamiku. Aku dan mertua bergantian menjenguknya.
Lima tahun sudah suamiku koma. Sebagian orang menyarankan agar aku mengajukan cerai ke pengadilan karena menurut dokter tak ada harapan sembuh untuk suamiku. Bahkan, seorang syaikh pun merekomendasikan hal itu setelah mengetahui bahwa otak suamiku lumpuh untuk selamanya.
“Tidak,” jawabku tegas setiap kali ada saran untuk bercerai. “Selama suamiku belum dikubur, aku akan tetap menjadi istrinya.”
Aku pun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah Asmaa. Aku mengajarinya, aku juga memasukkannya ke sekolah tahfidz. Ia mulai terbiasa shalat malam pada usia 7 tahun. Dan alhamdulillah, ia bisa hafal Qur’an sebelum menginjak usia 10 tahun. Seiring bertambahnya hafalan dan kedekatannya dengan Al Qur’an, kedewasaannya pun meningkat melampaui usianya. Aku pikir inilah waktu yang tepat untuk menyampaikan hal sebenarnya tentang ayahnya. Asmaa menangis. Ia sangat sedih mendengar kabar ayahnya. Terkadang, ia juga terlihat diam menyendiri.
Sejak tahu ayahnya koma di rumah sakit, Asmaa selalu membersamaiku ke sana. Ia mendoakan dan meruqyah ayahnya, ia juga bersedekah untuk ayahnya.
Hingga suatu hari pada tahun 1410, Asmaa meminta ijin menginap di rumah sakit. “Aku ingin menunggui ayah malam ini” pintanya dengan nada mengiba. Aku tak bisa mencegah.
Malam itu, Asmaa duduk di samping ayahnya. Ia membaca surat Al Baqarah di sana. Dan begitu selesai ayat terakhirnya, rasa kantuk menyergapnya. Ia tertidur di dekat ayahnya yang masih koma. Tak berapa lama kemudian, Asmaa terbangun. Ada ketenangan dalam tidur singkatnya itu. lalu, ia pun berwudhu dan menunaikan shalat malam.
Selesai shalat beberapa raka’at, rasa kantuk kembali menyergap Asmaa. Tetapi, kantuk itu segera hilang ketika Asmaa merasa ada suara yang memanggilnya, antara tidur dan terjaga. “Bangunlah… bagaimana mungkin engkau tidur sementara waktu ini adalah waktu mustajab untuk berdoa? Allah tidak akan menolak doa hamba di waktu ini”
Asmaa pun kemudian mengangkat tangannya dan berdoa. “Yaa Rabbi, Yaa Hayyu…Yaa ‘Adziim… Yaa Jabbaar… Yaa Kabiir… Yaa Mut’aal… Yaa Rahmaan… Yaa Rahiim… ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…
Ya Allah…, sesungguhnya ia berada di bawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya… Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim… sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…
Ya Allah… sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh… Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…”
Sebelum Subuh, rasa kantuk datang lagi. Dan Asmaa pun tertidur.
“Siapa engkau, mengapa kau ada di sini?” suara itu membangunkan Asmaa. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari sumber suara. Tak ada orang. Betapa bahagia dirinya, ternyata suara itu adalah suara ayahnya. Ia sadar dari koma panjangnya. Begitu bahagianya Asmaa, ia pun memeluk ayahnya yang masih terbaring. Sang ayah kaget.
“Takutlah kepada Allah. Engkau tidak halal bagiku” kata sang ayah.
“Aku ini putrimu ayah. Aku Asmaa” tak menghiraukan keheranan sang ayah, Asmaa segera menghubungi dokter dan mengatakan apa yang terjadi.
Para dokter yang piket pada pagi itu hanya bisa mengucapkan “masya Allah”. Mereka hampir tak percaya dengan peristiwa menakjubkan ini. Bagaimana mungkin otak yang telah mati kini kembali? Ini benar-benar kekuasaan Allah.
Sementara Abu Asmaa, ia juga heran mengapa dirinya berada di situ. Ketika Asmaa dan ibunya menceritakan bahwa ia telah koma selama tujuh tahun, ia hanya bertasbih dan memuji Allah. “Sungguh Allah Maha Baik. Dialah yang menjaga hamba-hambaNya” simpulnya.
Demikianlah, aku sangat berbahagia dengan keajaiban dari Allah ini. Aku hanya bisa bersykur kepada Allah yang telah mengokohkan kesetiaanku dan membimbingku untuk mentarbiyah putriku. [Kisahikmah.com, ditulis secara bebas dari kisah asli muslm.org]

Senin, 20 Oktober 2014

Kisah-Kisah Teladan Islami Penuh Hikmah


mengajak untuk merenung dengan kisah berikut,. Semoga bermanfaat!! 

Hari itu Nasibah tengah berada di dapurSuaminya, Said tengah beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh.Nasibah menebak, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung Uhud. Dengan bergegas, Nasibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan masuk ke kamar. Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut dibangunkannya. “Suamiku tersayang,” Nasibah berkata, “aku mendengar suara aneh menuju UhudBarang kali orang-orang kafir telah menyerang.” Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Ia menyesal mengapa bukan ia yang mendengar suara itu. Malah istrinya. Segera saja ia bangkit dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu ia menyiapkan kuda, Nasibah menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said. “Suamiku, bawalah pedang iniJangan pulang sebelum menang….” Said memandang wajah istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah ada keraguan baginya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu makin mengobarkan keberanian Said saja. Di rumah, Nasibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemasKetika itulah tiba-tiba muncul seorang pengendara kuda yang nampaknya sangat gugup. “Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid…” Nasibah tertunduk sebentar, “Inna lillah…..” gumamnya, “Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.” Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat itu, Nasibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, “Amar, kaulihat Ibu menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih karena tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?” Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar. “Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terbasmi.” Mata amar bersinar-sinar. “Terima kasihIbu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku was-was seandainya Ibu tidak memberi kesempatan kepadaku untuk membela agama Allah.” PutraNasibah yang berbadan kurus itu pun segera menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak tampak ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di depan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. “Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayah yang telah gugur.” Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejatiAmar. Allah memberkatimu….” Hari itu pertempuran berlalu cepatPertumpahan darah berlangsung sampai sore. Pagi-pagi seorang utusan pasukan islam berangkat dari perkemahan mereka meunuju ke rumah NasibahSetibanya di sana, perempuan yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan kiranya?” serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “apakah anakku gugur?” Utusan itu menunduk sedih, “Betul….” “Inna lillah….” Nasibah bergumam kecil. Ia menangis. “Kau berduka, ya Ummu Amar?” Nasibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatan? Saad masih kanak-kanak.” Mendegar itu, Saad yang tengah berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putra seorang ayah yang gagah berani.” Nasibah terperanjat. Ia memandangi putranya. “Kau tidak takut, nak?” Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nasibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan itu. Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu akbar!” Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nasibah. Mendengar berita kematian itu, Nasibah meremang bulu kuduknya. “Hai utusan,” ujarnya, “Kausaksikan sendiri aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.” Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau perempuan, ya Ibu….” Nasibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku karena aku perempuan? Apakah perempuan tidak ingin juga masuk surga melalui jihad?” Nasibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas saja menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada. Tiba di sana,Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nasibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum. “Nasibah yang dimuliakan Allah. Belum waktunya perempuan mengangkat senjata. Untuk sementra engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.” Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nasibah pun segera menenteng tas obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur. Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk memberi minum seorang prajuritmuda yang luka-luka, tiba-tiba terciprat darah di rambutnya. Ia menegokKepala seorang tentara Islam menggelinding terbabat senjata orang kafir. Timbul kemarahan Nasibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi waktu dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh, Nasibah tidak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang rubuh itu. Dinaiki kudanya. Lantas bagai singa betina, ia mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbangHingga pada suatu waktu seorang kafir mengendap dari belakang, dan membabat putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kudaPeperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh,sehingga Nasibah teronggok sendirian. Tiba-tiba Ibnu Mas’ud mengendari kudanya, mengawasi kalau-kalau ada korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat seonggok tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Istri Said-kah engkau?” Nasibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah beliau?” “Beliau tidak kurang suatu apapun…” “Engkau Ibnu Mas’ud, bukanPinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….” “Engkau masih luka parah,Nasibah….” “Engkau mau menghalangi aku membela Rasulullah?” Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nasibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikannya. Namun, karena tangannya sudah buntungakhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus. Rubuhlah perempuan itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya. Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang benderangPertempuran terhenti sejenak. Rasul kemudian berkata kepada parasahabatnya, “Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nasibah, wanita yang perkasa.” Subhanallah walhamdulillah walaailaahaillallah wallahuakbar,. Walaa haula walaa quwwata illa billah Al aliyyi al 'adzim,.


Semoga tulisan sederhana ini membawa banyak manfaat bagi yang membacanya. Segala kesalahan adalah dari saya pribadi, untuk itu saya mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan kebenaran itu mutlak milik Allah Azza Wa Jalla...Wallahu Musta'an

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa

Face Book _ Iwan Kah