10Tips Berbicara Pada Anak Agar Mereka Mendengar
1. Connect before you direct
Sebelum memberikan arahan kepada anak Anda, jongkoklah setinggi level
mata anak Anda dan tatap matanya untuk mendapatkan perhatiannya.
Ajarlah dia bagaimana untuk fokus: ‘Mary, saya butuh perhatianmu’ ,
‘Billy, saya butuh kamu mendengarkan ini’. Berikan ‘bahasa tubuh’ yang
sama saat mendengarkan mereka. Pastikan kontak mata Anda tidak terlalu
intens sehingga anak Anda menganggap pandangan mata itu sebagai cara
‘berkomunikasi’ bukan ‘mengontrol’ .
2. Address the child
Awali permintaan Anda dengan menyebutkan nama anak Anda, Lauren, bisa
tolong …
3. Stay brief
Gunakan aturan ’satu kalimat’: letakkan kata arahan di permulaan
kalimat. Semakin lama Anda bertele-tele, anak Anda semakin berperi
laku ‘tuli’ dengan isi kata-kata Anda. Terlalu banyak bicara adalah
kesalahan paling umum terjadi saat berdialog tentang suatu masalah.
Kondisi seperti ini membuat anak Anda merasa bahwa Anda sendiri tidak
terlalu yakin dengan apa yang ingin Anda sampaikan. Dan ia akan
beranggapan bahwa semakin ia membuat Anda terus bicara, semakin mudah
membuat Anda menyimpang dari pokok
masalah sebenarnya.
4. Stay simple
Gunakan kalimat-kalimat pendek dengan kata-kata yang mengandung 1 suku
kata. Cobalah dengarkan bagaimana anak-anak berkomunikasi dengan teman
sebayanya dan cermatilah caranya. Bila anak Anda sudah memperlihatkan
pandangan yang menunjukkan bahwa ia sedang tidak berminat, itu artinya
kata-kata Anda tidak lagi dimengerti olehnya.
5. Ask your child to repeat the request back to you
Jika ia tidak dapat mengulanginya, mungkin kata-kata Anda terlalu
panjang atau terlalu rumit.
6. Make an offer the child can’t refuse
Anda dapat memberikan alasan kepada seorang anak usia 2 atau 3 tahun,
khususnya untuk menghindari ‘unjuk kekuatan’ antara Anda dengannya,
misalnya: ‘Cepat berpakaian supaya kamu bisa main di luar’. Berikan
sebuah alasan untuk permintaan Anda yang memang untuk ‘keuntungan’
sang anak dan juga ’sulit untuk ditolak’ dia. Kondisi ini akan
membuatnya tidak mencoba ‘unjuk kekuatan’ dan mau melakukan apa yang
kita inginkan.
7. Be positive
Daripada mengatakan ‘Jangan lari-lari!’, cobalah dengan: ‘Di dalam
rumah kita berjalan, di luar rumah kamu boleh berlari’.
8. Begin your directives with I want.
Daripada mengatakan ‘Turun!’, cobalah dengan: Saya ingin kamu turun’.
Daripada, ‘Sekarang giliran Becky’, cobalah dengan: ‘Saya ingin kamu
beri giliran buat Becky’. Metode seperti ini berhasil baik untuk
anak-anak yang ingin bersikap baik tapi tidak suka ‘diperintah’ .
Dengan mengucapkan,
‘Saya ingin,’ Anda memberinya alasan untuk ‘rela melakukannya’
dibandingkan hanya sekadar ’sebuah perintah’.
9. When … then.
‘Setelah kamu selesai menggosok gigi, saya akan mulai membacakan
cerita’. ‘Setelah PR mu selesai, kamu boleh nonton TV’. Kata ’setelah’
yang menyatakan bahwa Anda mengharapkan ‘kepatuhan’, lebih berhasil
diterapkan dibandingkan kata ‘kalau’. Pemilihan kata ini mengondisikan
anak pada suatu pilihan, saat Anda tidak bermaksud memberinya pilihan.
10. Leg first, mouth second.
Daripada berteriak ‘Matikan TV, sekarang makan malam!’, cobalah untuk
berjalan mendekati anak, bergabung dengan keasyikannya nonton TV
sebentar,dan setelah itu, saat ada jeda iklan TV, mintalah anak Anda
mematikan TV. Berjalan mendekati anak Anda sebelum memintanya
melakukan sesuatu memiliki pesan tersirat bahwa Anda serius dengan
permintaan Anda. Jika tidak demikian, anak-anak hanya akan
menafsirkannya sebagai pilihan belaka.
1. Connect before you direct
Sebelum memberikan arahan kepada anak Anda, jongkoklah setinggi level
mata anak Anda dan tatap matanya untuk mendapatkan perhatiannya.
Ajarlah dia bagaimana untuk fokus: ‘Mary, saya butuh perhatianmu’ ,
‘Billy, saya butuh kamu mendengarkan ini’. Berikan ‘bahasa tubuh’ yang
sama saat mendengarkan mereka. Pastikan kontak mata Anda tidak terlalu
intens sehingga anak Anda menganggap pandangan mata itu sebagai cara
‘berkomunikasi’ bukan ‘mengontrol’ .
2. Address the child
Awali permintaan Anda dengan menyebutkan nama anak Anda, Lauren, bisa
tolong …
3. Stay brief
Gunakan aturan ’satu kalimat’: letakkan kata arahan di permulaan
kalimat. Semakin lama Anda bertele-tele, anak Anda semakin berperi
laku ‘tuli’ dengan isi kata-kata Anda. Terlalu banyak bicara adalah
kesalahan paling umum terjadi saat berdialog tentang suatu masalah.
Kondisi seperti ini membuat anak Anda merasa bahwa Anda sendiri tidak
terlalu yakin dengan apa yang ingin Anda sampaikan. Dan ia akan
beranggapan bahwa semakin ia membuat Anda terus bicara, semakin mudah
membuat Anda menyimpang dari pokok
masalah sebenarnya.
4. Stay simple
Gunakan kalimat-kalimat pendek dengan kata-kata yang mengandung 1 suku
kata. Cobalah dengarkan bagaimana anak-anak berkomunikasi dengan teman
sebayanya dan cermatilah caranya. Bila anak Anda sudah memperlihatkan
pandangan yang menunjukkan bahwa ia sedang tidak berminat, itu artinya
kata-kata Anda tidak lagi dimengerti olehnya.
5. Ask your child to repeat the request back to you
Jika ia tidak dapat mengulanginya, mungkin kata-kata Anda terlalu
panjang atau terlalu rumit.
6. Make an offer the child can’t refuse
Anda dapat memberikan alasan kepada seorang anak usia 2 atau 3 tahun,
khususnya untuk menghindari ‘unjuk kekuatan’ antara Anda dengannya,
misalnya: ‘Cepat berpakaian supaya kamu bisa main di luar’. Berikan
sebuah alasan untuk permintaan Anda yang memang untuk ‘keuntungan’
sang anak dan juga ’sulit untuk ditolak’ dia. Kondisi ini akan
membuatnya tidak mencoba ‘unjuk kekuatan’ dan mau melakukan apa yang
kita inginkan.
7. Be positive
Daripada mengatakan ‘Jangan lari-lari!’, cobalah dengan: ‘Di dalam
rumah kita berjalan, di luar rumah kamu boleh berlari’.
8. Begin your directives with I want.
Daripada mengatakan ‘Turun!’, cobalah dengan: Saya ingin kamu turun’.
Daripada, ‘Sekarang giliran Becky’, cobalah dengan: ‘Saya ingin kamu
beri giliran buat Becky’. Metode seperti ini berhasil baik untuk
anak-anak yang ingin bersikap baik tapi tidak suka ‘diperintah’ .
Dengan mengucapkan,
‘Saya ingin,’ Anda memberinya alasan untuk ‘rela melakukannya’
dibandingkan hanya sekadar ’sebuah perintah’.
9. When … then.
‘Setelah kamu selesai menggosok gigi, saya akan mulai membacakan
cerita’. ‘Setelah PR mu selesai, kamu boleh nonton TV’. Kata ’setelah’
yang menyatakan bahwa Anda mengharapkan ‘kepatuhan’, lebih berhasil
diterapkan dibandingkan kata ‘kalau’. Pemilihan kata ini mengondisikan
anak pada suatu pilihan, saat Anda tidak bermaksud memberinya pilihan.
10. Leg first, mouth second.
Daripada berteriak ‘Matikan TV, sekarang makan malam!’, cobalah untuk
berjalan mendekati anak, bergabung dengan keasyikannya nonton TV
sebentar,dan setelah itu, saat ada jeda iklan TV, mintalah anak Anda
mematikan TV. Berjalan mendekati anak Anda sebelum memintanya
melakukan sesuatu memiliki pesan tersirat bahwa Anda serius dengan
permintaan Anda. Jika tidak demikian, anak-anak hanya akan
menafsirkannya sebagai pilihan belaka.
Menurut saya, berikut adalah beberapa contoh dari cara mendidik anak yang kurang baik.
1. Jika anak terjatuh karena menyenggol meja, kita memukul mejanya dan mengatakan pada si kecil bahwa meja itu jahat.
atau:
kalau anak A memukul anak B sehingga si B menangis, kita akan (pura-pura) memukul si A di depan si B agar si B tidak menangis lagi.
Sikap seperti ini akan mendidik anak menjadi manusia pendendam. Si anak juga akan terdidik untuk menjadi manusia yang tidak pernah merasa bersalah. "Pokoknya apapun yang terjadi, yang salah adalah orang lain, bukan saya!"
2. Kalau anak terjatuh, kita akan langsung menggendongnya dan melindunginya, bersikap seolah2 si anak baru saja mengalami musibah yang sangat besar.
Sikap seperti ini akan mendidik anak menjadi manusia manja, yang tidak kuat menahan cobaan hidup. Mereka akan gampang menyerah jika menghadapi masalah.
Saya kira, biarkan sajalah kalau anak kita cuma jatuh biasa. Bilang bahwa jatuh itu biasa, dan yang ia alami tak perlu dikhawatirkan. Kecuali kalau jatuhnya keras sehingga kepalanya benjol, itu lain ceritanya, hehehehe...
3. Menakut-nakuti si anak akan adanya hantu.
Biasanya, cara seperti ini digunakan oleh orang tua jika anak mereka bandel atau tidak bisa diberitahu.
memang, dalam jangka pendek sikap seperti ini biasanya efektif. Tapi untuk jangka panjang, ini justru tidak baik. SI anak akan tumbuh menjadi seorang yang penakut. ia akan takut pada hantu, padahal hanti atau jin sebenarnya tak perlu ditakuti. Mereka adalah makhluk yang jauh lebih rendah dari manusia. Mulai sekarang, kita justru harus menamamkan pengertian pada anak bahwa hantu tak perlu ditakuti. Kita justru harus "anggap remeh" terhadap hantu.
4. Terlalu banyak melarang.
"Jangan nak, nanti kamu jatuh."
"Jangan main air dong, nanti masuk angin."
"Kok makannya belepotan gitu? Jorok tahu!"
"Itu nasi kok dibuang? Kan mubazir!"
Anak adalah jenis manusia yang sedang dalam proses belajar. Jadi wajar dong, kalau mereka sering melakukan kesalahan. Jika mereka membuang nasi misalnya, langkah terbaik bukanlah memarahi mereka dan mengatakan itu mubazir. Tapi alangkah baiknya jika kita memberitahu mereka dengan cara yang lebih menyenangkan, dan bisa diterima oleh pikiran mereka yang masih terbatas.
Terlalu banyak melarang juga akan mendidik anak menjadi manusia yang tidak berani mencoba hal-hal baru.
5. Menganggap si anak sebagai orang bodoh
Kita sering berkata, "Ah, anak kecil, Tahunya apa!"
Padahal, banyak anak kecil yang berhasil menunjukkan kehebatan mereka. Mereka berhasil membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang yang pintar dan hebat, walau usia masih amat muda.
Saya kira, kita harus menghargai eksistensi setiap anak, apalagi kalau anak sendiri! Kita justru harus memperlakukan mereka sebagai seorang manusia yang berpotensi. Kita tak pernah tahu persis, seberapa besar ilmu pengetahuan yang sudah tersimpan di kepala anak kita. Karena itu, jangan sekali-kali menganggap mereka bodoh, belum tahu apa-apa, dan sebagainya.
Dengan memperlakukan mereka secara wajar, ini akan mendidik anak menjadi seorang manusia yang percaya diri sehingga ia akan lebih mudah meraih sukses.
6. Memarahi anak jika mereka bertanya
Mungkin kita punya anak yang terlalu banyak bertanya. Karena bosan dan jengkel, kita memarahinya, mengatakan mereka cerewet, bahkan menyuruhnya untuk tidak terlalu banyak bertanya.
Padahal, anak yang cerewet atau sering bertanya, sebenarnya adalah anak yang sangat pintar. Mereka ingin tahu banyak hal. Karena itu, cobalah untuk bersabar menghadapi mereka. Jawablah pertanyaan2 mereka sebisa mungkin, dengan cara yang menyenangkan. Dengan cara seperti ini, kreativitas dan kecerdasan anak akan tumbuh dengan sewajarnya.
1. Jika anak terjatuh karena menyenggol meja, kita memukul mejanya dan mengatakan pada si kecil bahwa meja itu jahat.
atau:
kalau anak A memukul anak B sehingga si B menangis, kita akan (pura-pura) memukul si A di depan si B agar si B tidak menangis lagi.
Sikap seperti ini akan mendidik anak menjadi manusia pendendam. Si anak juga akan terdidik untuk menjadi manusia yang tidak pernah merasa bersalah. "Pokoknya apapun yang terjadi, yang salah adalah orang lain, bukan saya!"
2. Kalau anak terjatuh, kita akan langsung menggendongnya dan melindunginya, bersikap seolah2 si anak baru saja mengalami musibah yang sangat besar.
Sikap seperti ini akan mendidik anak menjadi manusia manja, yang tidak kuat menahan cobaan hidup. Mereka akan gampang menyerah jika menghadapi masalah.
Saya kira, biarkan sajalah kalau anak kita cuma jatuh biasa. Bilang bahwa jatuh itu biasa, dan yang ia alami tak perlu dikhawatirkan. Kecuali kalau jatuhnya keras sehingga kepalanya benjol, itu lain ceritanya, hehehehe...
3. Menakut-nakuti si anak akan adanya hantu.
Biasanya, cara seperti ini digunakan oleh orang tua jika anak mereka bandel atau tidak bisa diberitahu.
memang, dalam jangka pendek sikap seperti ini biasanya efektif. Tapi untuk jangka panjang, ini justru tidak baik. SI anak akan tumbuh menjadi seorang yang penakut. ia akan takut pada hantu, padahal hanti atau jin sebenarnya tak perlu ditakuti. Mereka adalah makhluk yang jauh lebih rendah dari manusia. Mulai sekarang, kita justru harus menamamkan pengertian pada anak bahwa hantu tak perlu ditakuti. Kita justru harus "anggap remeh" terhadap hantu.
4. Terlalu banyak melarang.
"Jangan nak, nanti kamu jatuh."
"Jangan main air dong, nanti masuk angin."
"Kok makannya belepotan gitu? Jorok tahu!"
"Itu nasi kok dibuang? Kan mubazir!"
Anak adalah jenis manusia yang sedang dalam proses belajar. Jadi wajar dong, kalau mereka sering melakukan kesalahan. Jika mereka membuang nasi misalnya, langkah terbaik bukanlah memarahi mereka dan mengatakan itu mubazir. Tapi alangkah baiknya jika kita memberitahu mereka dengan cara yang lebih menyenangkan, dan bisa diterima oleh pikiran mereka yang masih terbatas.
Terlalu banyak melarang juga akan mendidik anak menjadi manusia yang tidak berani mencoba hal-hal baru.
5. Menganggap si anak sebagai orang bodoh
Kita sering berkata, "Ah, anak kecil, Tahunya apa!"
Padahal, banyak anak kecil yang berhasil menunjukkan kehebatan mereka. Mereka berhasil membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang yang pintar dan hebat, walau usia masih amat muda.
Saya kira, kita harus menghargai eksistensi setiap anak, apalagi kalau anak sendiri! Kita justru harus memperlakukan mereka sebagai seorang manusia yang berpotensi. Kita tak pernah tahu persis, seberapa besar ilmu pengetahuan yang sudah tersimpan di kepala anak kita. Karena itu, jangan sekali-kali menganggap mereka bodoh, belum tahu apa-apa, dan sebagainya.
Dengan memperlakukan mereka secara wajar, ini akan mendidik anak menjadi seorang manusia yang percaya diri sehingga ia akan lebih mudah meraih sukses.
6. Memarahi anak jika mereka bertanya
Mungkin kita punya anak yang terlalu banyak bertanya. Karena bosan dan jengkel, kita memarahinya, mengatakan mereka cerewet, bahkan menyuruhnya untuk tidak terlalu banyak bertanya.
Padahal, anak yang cerewet atau sering bertanya, sebenarnya adalah anak yang sangat pintar. Mereka ingin tahu banyak hal. Karena itu, cobalah untuk bersabar menghadapi mereka. Jawablah pertanyaan2 mereka sebisa mungkin, dengan cara yang menyenangkan. Dengan cara seperti ini, kreativitas dan kecerdasan anak akan tumbuh dengan sewajarnya.
Ada baeknya juga kok, kita nganggep mereka tuh kadang sebagai teman. ajak diskusi, hal2 yang kecil yang mereka paham.. atopun saling bercerita (antara ortu dan anak) tentang apa yang masing2 lakukan dalam keseharian. tentu saja dari pihak ortu mengemasnya sedemikian rupa dalam versi anak, sehingga tetap membuat anak ceria.
Sekali tempo, boleh juga kok dibiarin ujan2.. tentu saja di bawah pengawasan kita, dan liat kondisi si anak. sebentar aja ok tuh, biar mereka ngerasain, ternyata hujan itu emang rahmat dari Allah yang harus kita syukuri, so ga bole kita melaknat hujan... hehe.. apa hubungannya neh... ada dunk ^_^
Sekali tempo, boleh juga kok dibiarin ujan2.. tentu saja di bawah pengawasan kita, dan liat kondisi si anak. sebentar aja ok tuh, biar mereka ngerasain, ternyata hujan itu emang rahmat dari Allah yang harus kita syukuri, so ga bole kita melaknat hujan... hehe.. apa hubungannya neh... ada dunk ^_^
bener juga tambahan dari Ira, jangan berbohong sama anak
emang bikin kita muter otak sih, tapi merangsang ortu untuk kreatif menyampaikan kebenaran dengan caranya masing-masing :)
jgn sampai anak kehilangan kepercayaan pada ortunya yg akhirnya bikin anak ogah sharing sama ortu ketika beranjak remaja.
emang bikin kita muter otak sih, tapi merangsang ortu untuk kreatif menyampaikan kebenaran dengan caranya masing-masing :)
jgn sampai anak kehilangan kepercayaan pada ortunya yg akhirnya bikin anak ogah sharing sama ortu ketika beranjak remaja.
Bagian yang 'melarang' itu, bisa diganti dengan menyampaikan yang 'seharusnya' atau 'sebaiknya' dan mengarahkan kepada perbuatan baik yang kita inginkan untuk dilakukan oleh anak.
Alih-alih mengatakan: "Jangan nak, nanti kamu jatuh."
Sebaiknya melakukan: dekati anak, bimbing sambil memastikan dia tidak jatuh, dan mengarahkan apa yang harus dia lakukan seperti cara melangkah, cara berpegangan, dan menyemangatinya.
Alih-alih mengatakan: "Jangan main air dong, nanti masuk angin."
Sebaiknya melakukan: dekati si anak, ajak dia cuci tangan dengan baik, kemudian arahkan ke permainan yang lain.
Alih-alih mengatakan: "Kok makannya belepotan gitu? Jorok tau!"
Sebaiknya mengatakan: "Alhamdulillah anakku makannya asyik sekali. Yuk dibantu supaya rapi makannya ya." Sambil mengarahkan gerakan tangannya.
Begitu kira-kira, semoga bermanfaat.
Alih-alih mengatakan: "Jangan nak, nanti kamu jatuh."
Sebaiknya melakukan: dekati anak, bimbing sambil memastikan dia tidak jatuh, dan mengarahkan apa yang harus dia lakukan seperti cara melangkah, cara berpegangan, dan menyemangatinya.
Alih-alih mengatakan: "Jangan main air dong, nanti masuk angin."
Sebaiknya melakukan: dekati si anak, ajak dia cuci tangan dengan baik, kemudian arahkan ke permainan yang lain.
Alih-alih mengatakan: "Kok makannya belepotan gitu? Jorok tau!"
Sebaiknya mengatakan: "Alhamdulillah anakku makannya asyik sekali. Yuk dibantu supaya rapi makannya ya." Sambil mengarahkan gerakan tangannya.
Begitu kira-kira, semoga bermanfaat.
Beberapa waktu lalu, sebelum pelaksanaan Pilkada, saya berkesempatan mewawancarai Pak Nurmahmudi Ismail, yang kini terpilih sebagai Walikota Depok. Ini adalah dalam rangka menjalankan tugas dari sebuah penerbitan yang hendak menulis biografi mantan Menteri Kehutanan ini.
Karena yang ditulis adalah biografi, maka pertanyaan saya mencakup semua aspek, mulai dari masalah pribadi hingga pandangan beliau tentang politik, dan sebagainya.
Ada sebuah pertanyaan standar yang saya ajukan ketika itu, "Apa Bapak punya kiat khusus dalam mendidik anak?" Hm, sebuah pertanyaan yang amat standar, kan? Karena itu, saya menanyakannya dengan sikap yang biasa-biasa saja, jauh dari antusias. Saya pikir, kalau wawancara ini bukan dalam rangka menulis biografi, saya akan malas mengajukan pertanyaan itu.
Lantas, sebelum beliau menjawab, saya pun sempat berpikir yang macam-macam. Ah, paling dia memberikan jawaban yang standar juga, pikir saya. Mungkin dia akan menjawab, 'Saya mendidik anak dengan keteladanan', atau 'Saya tidak mengatur cita-cia anak. Biarkan mereka yang tentukan sendiri. Orang tua tinggal mengarahkan.' Dan seterusnya dan seterusnya.
Namun, ketika jawaban demi jawaban mengalir dari mulut Pak Nur (demikian ia biasa dipanggil), saya terkesima. Saya seketika sadar bahwa berburuk sangka itu memang tidak baik. Pak Nur menjelaskan metode pendidikan anak yang unik, menarik, dan belum pernah saya dengar sebelumnya.
Berikut adalah cuplikan jawaban beliau, yang saya tulis ulang dengan kalimat sendiri.
Saya melatih anak-anak untuk mengungkapkan buah pikiran dan perasaan secara verbal, melalui praktek langsung. Sebagai misal, si anak saya suruh bertandang ke rumah pakliknya di Blitar yang memiliki kandang ayam petelor. Selama berada di sana, mereka harus membuat laporan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan ternak ayam tersebut, seperti proses pemeliharaannya, penjualannya, pemberian makanan, dan sebagainya. Dengan cara seperti ini, mereka akan terlatih untuk bertanya tentang apa saja dan menyusun laporan atas kejadian-kejadian yang mereka alami. Dan semua ini disampaikan dalam suasana yang akrab, sambil bercanda dan bercengkerama. Kalau laporannya jelek, itu tidak masalah. Yang penting adalah latihannya. Hal-hal seperti ini diharapkan dapat mengembangkan kecerdasan emosional mereka.
Sejak dini, anak-anak juga sudah saya didik untuk hidup mandiri dan mengenal realitas dunia yang sebenarnya. Pada waktu libur, mereka saya suruh bekerja magang di perusahaan tertentu. Misalnya, salah seorang anak saya pernah menginap di kantor Penerbit Asy Syaamil di Bandung. Dia melihat proses penerbitan dan percetakan secara langsung. Hal-hal seperti ini akan mendidik mereka untuk memahami bahwa segala sesuatu di dunia itu tidak datang dengan sendirinya. Ia akan melalui proses tertentu yang membutuhkan perjuangan keras, menghadapi banyak kendala, dan sebagainya. Dalam waktu dekat, saya juga berencana menempatkan anak saya menjadi kasir di swalayan, tapi belum tercapai.
Sistem nilai yang kita ajarkan pada anak, lebih sering bertentangan dengan budaya yang berlaku di masyarakat. Tayangan TV misalnya, banyak yang berpotensi merusak dan sama sekali tidak mendidik. Ini menjadi masalah jika anak-anak kita menyenangi acara-acara tersebut.
Apakah saya khawatir akan hal ini? Secara jujur, ya. Namun saya tidak serta merta melarang mereka menonton TV dan mengatakan TV itu haram. Sama sekali tidak. Saya tahu bahwa ada juga acara TV yang baik, seperti siaran berita, pertandingan olah raga, dan sebagainya. Maka, daripada melarang dan menjauhkan anak dari TV, saya memilih menempuh jalur dialog dan memberikan pemahaman. Untuk acara TV yang baik, saya ajak mereka menontonnya dan bicara tentang hal-hal bermanfaat dari acara-acara tersebut. Setelah menonton siaran berita misalnya, saya mengajak mereka berdiskusi mengenai informasi-informasi yang baru saja disiarkan. Dengan cara seperti ini, mereka akan terlatih untuk menyenangi siaran berita dan acara-acara TV lainnya yang bermanfaat. Sedangkan untuk acara-acara yang tidak baik, saya menunjukkan bagian mana saja dari acara tersebut yang berpotensi merusak dan tidak mendidik. Lalu secara perlahan saya mengajak mereka untuk tidak menonton acara tersebut. Jika suatu saat ketahuan menonton, saya segera menegur dengan cara yang halus dan akrab.
* * *
Nah, benar-benar sebuah kiat yang menarik, kan? Saya benar-benar salut mendengarnya. Satu hal yang saya sukai dari cara Pak Nur menjawab pertanyaan wawancara, dia selalu bertutur dengan bahasa yang umum dan universal, tidak membawa-bawa simbol-simbol agama. Padahal kita tahu, dia termasuk orang yang wawasan dan pengetahuan agamanya sangat tinggi. Ini membuat siapa saja, dari golongan mana saja, akan senang mendengarkan ucapan beliau.
Setelah mendengar penuturan beliau tentang kiat mendidik anak, saya meresapinya dengan sungguh-sungguh. Diam-diam saya berjanji untuk meneladani beliau dalam mendidik anak-anak saya kelak.
Karena yang ditulis adalah biografi, maka pertanyaan saya mencakup semua aspek, mulai dari masalah pribadi hingga pandangan beliau tentang politik, dan sebagainya.
Ada sebuah pertanyaan standar yang saya ajukan ketika itu, "Apa Bapak punya kiat khusus dalam mendidik anak?" Hm, sebuah pertanyaan yang amat standar, kan? Karena itu, saya menanyakannya dengan sikap yang biasa-biasa saja, jauh dari antusias. Saya pikir, kalau wawancara ini bukan dalam rangka menulis biografi, saya akan malas mengajukan pertanyaan itu.
Lantas, sebelum beliau menjawab, saya pun sempat berpikir yang macam-macam. Ah, paling dia memberikan jawaban yang standar juga, pikir saya. Mungkin dia akan menjawab, 'Saya mendidik anak dengan keteladanan', atau 'Saya tidak mengatur cita-cia anak. Biarkan mereka yang tentukan sendiri. Orang tua tinggal mengarahkan.' Dan seterusnya dan seterusnya.
Namun, ketika jawaban demi jawaban mengalir dari mulut Pak Nur (demikian ia biasa dipanggil), saya terkesima. Saya seketika sadar bahwa berburuk sangka itu memang tidak baik. Pak Nur menjelaskan metode pendidikan anak yang unik, menarik, dan belum pernah saya dengar sebelumnya.
Berikut adalah cuplikan jawaban beliau, yang saya tulis ulang dengan kalimat sendiri.
Saya melatih anak-anak untuk mengungkapkan buah pikiran dan perasaan secara verbal, melalui praktek langsung. Sebagai misal, si anak saya suruh bertandang ke rumah pakliknya di Blitar yang memiliki kandang ayam petelor. Selama berada di sana, mereka harus membuat laporan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan ternak ayam tersebut, seperti proses pemeliharaannya, penjualannya, pemberian makanan, dan sebagainya. Dengan cara seperti ini, mereka akan terlatih untuk bertanya tentang apa saja dan menyusun laporan atas kejadian-kejadian yang mereka alami. Dan semua ini disampaikan dalam suasana yang akrab, sambil bercanda dan bercengkerama. Kalau laporannya jelek, itu tidak masalah. Yang penting adalah latihannya. Hal-hal seperti ini diharapkan dapat mengembangkan kecerdasan emosional mereka.
Sejak dini, anak-anak juga sudah saya didik untuk hidup mandiri dan mengenal realitas dunia yang sebenarnya. Pada waktu libur, mereka saya suruh bekerja magang di perusahaan tertentu. Misalnya, salah seorang anak saya pernah menginap di kantor Penerbit Asy Syaamil di Bandung. Dia melihat proses penerbitan dan percetakan secara langsung. Hal-hal seperti ini akan mendidik mereka untuk memahami bahwa segala sesuatu di dunia itu tidak datang dengan sendirinya. Ia akan melalui proses tertentu yang membutuhkan perjuangan keras, menghadapi banyak kendala, dan sebagainya. Dalam waktu dekat, saya juga berencana menempatkan anak saya menjadi kasir di swalayan, tapi belum tercapai.
Sistem nilai yang kita ajarkan pada anak, lebih sering bertentangan dengan budaya yang berlaku di masyarakat. Tayangan TV misalnya, banyak yang berpotensi merusak dan sama sekali tidak mendidik. Ini menjadi masalah jika anak-anak kita menyenangi acara-acara tersebut.
Apakah saya khawatir akan hal ini? Secara jujur, ya. Namun saya tidak serta merta melarang mereka menonton TV dan mengatakan TV itu haram. Sama sekali tidak. Saya tahu bahwa ada juga acara TV yang baik, seperti siaran berita, pertandingan olah raga, dan sebagainya. Maka, daripada melarang dan menjauhkan anak dari TV, saya memilih menempuh jalur dialog dan memberikan pemahaman. Untuk acara TV yang baik, saya ajak mereka menontonnya dan bicara tentang hal-hal bermanfaat dari acara-acara tersebut. Setelah menonton siaran berita misalnya, saya mengajak mereka berdiskusi mengenai informasi-informasi yang baru saja disiarkan. Dengan cara seperti ini, mereka akan terlatih untuk menyenangi siaran berita dan acara-acara TV lainnya yang bermanfaat. Sedangkan untuk acara-acara yang tidak baik, saya menunjukkan bagian mana saja dari acara tersebut yang berpotensi merusak dan tidak mendidik. Lalu secara perlahan saya mengajak mereka untuk tidak menonton acara tersebut. Jika suatu saat ketahuan menonton, saya segera menegur dengan cara yang halus dan akrab.
* * *
Nah, benar-benar sebuah kiat yang menarik, kan? Saya benar-benar salut mendengarnya. Satu hal yang saya sukai dari cara Pak Nur menjawab pertanyaan wawancara, dia selalu bertutur dengan bahasa yang umum dan universal, tidak membawa-bawa simbol-simbol agama. Padahal kita tahu, dia termasuk orang yang wawasan dan pengetahuan agamanya sangat tinggi. Ini membuat siapa saja, dari golongan mana saja, akan senang mendengarkan ucapan beliau.
Setelah mendengar penuturan beliau tentang kiat mendidik anak, saya meresapinya dengan sungguh-sungguh. Diam-diam saya berjanji untuk meneladani beliau dalam mendidik anak-anak saya kelak.