Mari berhenti sejenak! Berpikir dan merenung. Siapa pun kita dan seberapa pun usia kita. Karena umur bukanlah penghalang untuk merenung dan muhâsabah diri.
Dengannya banyak hal baru yang kita dapatkan. Gagasan-gagasan jenius, ide-ide segar, pikiran-pikiran baru, dan hal lainnya yang barangkali sering terlewatkan begitu saja oleh kesibukan kita. Merenung juga membantu mencarikan solusi berbagai permasalahan hidup yang sering datang begitu saja. Selain itu, renungan-renungan kecil yang kita lakukan sangat membantu keterarahan sikap dan perilaku. Misalnya, renungan untuk berbuat dan berbicara. Akan menjadikannya berbobot dan bermutu serta menghemat energi dari melakukan hal-hal yang tak berguna.
Merenung bukanlah pekerjaan yang sepele dan bernilai rendah. Nabi Muhammad Saw. Telah menjadikannya amalan khusus dan rutin selama 3 tahun berkhalwat di gua Hira`, sebelum diangkat menjadi rasul. Selama masa ini, beliau melakukan perenungan tingkat tinggi memikirkan solusi-solusi yang tepat bagi masyarakat Arab ketika itu. Tentang keutamaan merenung ini, salah seorang ulama salaf berkomentar begini, "Merenung (tafakkur) sejenak lebih baik dari sholat malam", (Al Jâmi` Li Ahkâm Al-Qur`an, juz 4:197).
Saudaraku fillah! Kita perlu rumusan hidup yang jelas di dunia ini. Untuk meletakkan rumusan itu kita butuh pertanyaanpertanyaan ringan yang menggelitik neuron-neuron saraf kita untuk berfikir. Misalnya, buat apa sich kita diciptakan?
Apakah hanya untuk makan, minum, kawin, punya keturunan dan selanjutnya mati! Atau, kita juga bertanya, siapa yang menciptakan bumi dan isinya, langit, bulan, matahari dan seterusnya. Mungkin kelihatannya remeh dan barangkali juga kita telah mengetahui jawabannya. Namun sepertinya hal itu belum cukup. Tidakkah kita bertanya lebih lanjut, sejauh mana kita meyakininya?
Agar tidak terjebak untuk merenungi hal-hal tak berguna bahkan mungkin berbau maksiat, kita juga dituntut membatasi hal-hal penting yang layak direnungi. Diantaranya;
Pertama, Merenungi ciptaan Allah Swt.
Abu Hamid Al-Ghazali mengatakan bahwa jalan untuk mengenal Allah Swt. adalah dengan mengagumi makhluk-Nya, keunikan-keunikan ciptaan-Nya dan berusaha memahami hikmah penciptaan di berbagai inovasi-Nya. Tentang keutamaan merenungi ciptaan-Nya ini, Allah Swt. telah menyebutnya di banyak ayat dan surat dalam Al-Quran, misalnya tentang penciptaan manusia (QS Al-Anbiyâ':30, QS Ath-Thariq:5, QS Adz-Dzariyaat:21) kemudian tentang penciptaan alam (QS An-Nâzi`at:27-28, QS Ali `Imran:190).
Kedua, Merenungi sifat-sifat Allah Swt. yang tergambar melalui nama-nama-Nya.
Maksud dari bahan renungan yang kedua ini adalah kita berusaha mengenal Allah Swt. melalui nama-nama-Nya yang disebut dalam Al Qur`an. Dan hal itu kita kaitkan dengan penciptaan alam semesta ini. Misalnya, kita tahu Allah Swt. Itu Maha Perkasa. Yang kita yakini kebenarannya dengan adanya penciptaan alam semesta ini. Atau kita tahu Allah Swt.
Maha Penyayang, yang kita yakini melalui limpahan rizki dan rahmat dari-Nya.
Terakhir, kita tidak membatasi renungan dan tafakkur pada 2 hal diatas, karena sebagai sesuatu yang fitrah, kita boleh
berpikir apa saja. Cita-cita, jodoh, rizki, masa depan, orang tua, saudara-saudara, tugas-tugas, bahkan mungkin
pekerjaan yang akan Anda lakukan setelah membaca tulisan ini. Merenunglah, selama hal itu dirasakan bermanfaat.
Insyâ' Allah akan mendapatkan ketenangan dan kepuasan batin. Maka tunggu apalagi, merenunglah sejenak sebelum
anda berbuat! Wallâhu `Alam Bisshawâb….